
SuratPlus - Jurusan kedokteran dan hukum selama ini identik dengan prestise—kuliah panjang, biaya besar, dan prospek karier yang dianggap menjanjikan. Tapi seorang pakar kecerdasan buatan kelas dunia justru mempertanyakan relevansi dua jurusan bergengsi itu di tengah pesatnya perkembangan AI.
Jad Tarifi, pendiri tim AI generatif pertama di Google, secara terang-terangan menyebut mahasiswa di kedua bidang studi tersebut sedang membuang-buang waktu mereka.
Siapa Jad Tarifi dan Mengapa Pendapatnya Layak Diperhatikan?
Tarifi bukan sembarang komentator. Sebagai lulusan PhD di bidang AI dan orang yang memimpin pembentukan tim AI generatif pertama di Google, ia berbicara dari posisi yang sangat dekat dengan perkembangan teknologi kecerdasan buatan global. Pandangannya yang kontroversial ini ia sampaikan dan dikutip oleh Fortune pada Jumat, 17 April 2026.
Inti Kritik: AI Akan Kejar Ketinggalan Sebelum Kamu Lulus
Argumen utama Tarifi cukup mengejutkan namun logis dalam kerangka percepatan AI yang terjadi saat ini. Menurutnya, laju perkembangan kecerdasan buatan begitu cepat sehingga teknologi ini akan sudah "mengejar ketinggalan" sebelum para mahasiswa kedokteran atau hukum akhirnya menyelesaikan studi mereka dan masuk ke dunia kerja.
"AI sendiri akan hilang saat Anda menyelesaikan gelar PhD. Bahkan hal-hal seperti penerapan AI pada robotika akan terpecahkan saat itu," kata Tarifi.
Artinya, semua pengetahuan yang diakumulasikan selama bertahun-tahun di bangku kuliah—baik di bidang medis maupun hukum—berpotensi sudah ketinggalan zaman ketika seorang lulusan akhirnya siap memasuki dunia kerja.
Masalah pada Metode Pendidikan yang Ada Sekarang
Kritik Tarifi tidak berhenti pada dua jurusan saja. Ia juga menyoroti pendekatan pendidikan yang diadopsi secara umum saat ini. Menurutnya, sistem pendidikan masih terlalu mengandalkan hafalan—suatu metode yang ia nilai tidak sejalan dengan percepatan inovasi di bidang AI.
Dengan kata lain, ketika AI terus berkembang dengan kecepatan eksponensial, sistem pendidikan yang lambat berubah justru menjadi hambatan—bukan jalan menuju kesuksesan karier.
Lalu Apa yang Seharusnya Disiapkan?
Meski melontarkan kritik tajam, Tarifi tidak sekadar mengecam tanpa memberikan arahan. Ia memberikan saran yang justru menempatkan nilai kemanusiaan sebagai fondasi kesuksesan di era AI.
"Keberhasilan di masa depan tidak akan datang dari mengumpulkan kredensial, melainkan dari mengembangkan perspektif yang unik, kesadaran emosional, dan hubungan antarmanusia yang kuat," ujar Tarifi.
Dengan kata lain, yang perlu diperkuat adalah keterampilan yang tidak mudah ditiru oleh mesin. Beberapa yang ia sebutkan secara spesifik antara lain:
- Kemampuan berempati — memahami kondisi emosional orang lain secara mendalam
- Keterampilan interpersonal — membangun dan mempertahankan hubungan antarmanusia yang bermakna
- Pengembangan diri secara emosional — kesadaran diri yang tinggi dan kemampuan mengelola emosi
Tiga hal ini, menurut Tarifi, adalah benteng pertahanan yang paling sulit ditembus oleh kecerdasan buatan—dan justru itulah yang menjadikannya berharga di pasar kerja masa depan.
Relevansi untuk Pencari Kerja dan Mahasiswa di Indonesia
Pandangan Tarifi memberikan perspektif penting bagi siapa pun yang sedang merencanakan jalur pendidikan atau karier—termasuk di Indonesia, di mana jurusan kedokteran dan hukum masih sangat diminati dan dianggap sebagai jalur karier yang paling aman.
Jika kamu sedang mempertimbangkan pilihan jurusan, mungkin ada baiknya juga melihat data terbaru tentang jurusan kuliah yang paling banyak dicari oleh perusahaan besar di tahun 2026. Data tersebut memberikan gambaran nyata tentang bidang studi mana yang saat ini paling banyak diminati perusahaan saat merekrut lulusan baru.
Antara Gelar dan Kesiapan Kerja: Mana yang Lebih Menentukan?
Pernyataan Tarifi memunculkan perdebatan yang lebih luas: apakah gelar akademik masih menjadi penentu utama dalam rekrutmen? Dalam praktik di lapangan, jawabannya semakin condong ke arah keterampilan dan kesiapan kerja—bukan semata-mata nama universitas atau jurusan yang tertera di ijazah.
Bagi kamu yang sedang aktif mencari kerja atau bersiap melamar, memiliki dokumen lamaran yang kuat tetap menjadi langkah pertama yang tidak bisa dilewatkan. Kamu bisa buat cv ats online yang dirancang untuk lolos sistem seleksi otomatis yang banyak digunakan perusahaan, sekaligus menonjolkan keterampilan dan pencapaian nyata yang relevan dengan posisi yang kamu incar. Lengkapi juga dengan surat lamaran kerja yang personal dan tepat sasaran—karena di pasar kerja yang semakin kompetitif, cara kamu mempresentasikan diri punya bobot yang sama besarnya dengan kualifikasi yang kamu miliki.
Satu Pesan yang Perlu Dicatat
Pandangan Tarifi bukan berarti kuliah kedokteran atau hukum tidak ada nilainya sama sekali. Konteksnya lebih spesifik: ketika kecepatan perubahan teknologi jauh melampaui siklus pendidikan konvensional, sistem yang tidak bisa beradaptasi akan meninggalkan lulusannya dengan pengetahuan yang sudah usang.
Yang jelas, satu hal yang ia tekankan cukup keras: di masa depan yang didominasi AI, daftar panjang gelar akademik tidak lagi menjadi tiket otomatis menuju kesuksesan. Perspektif yang unik, kesadaran emosional yang tinggi, dan kemampuan membangun hubungan antarmanusia yang bermakna—itulah yang akan benar-benar membedakan.